Kembali ke semua artikel
Monster Pabrik Rambut: Saat Lembur Lebih Menakutkan dari Hantu
Gaya Hidup Halal 03 June 2026 5 menit baca

Monster Pabrik Rambut: Saat Lembur Lebih Menakutkan dari Hantu

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Ketika mendengar kata "film horor", kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan hantu, makhluk gaib, atau teror supranatural. Namun film Monster Pabrik Rambut menghadirkan ketakutan yang berbeda. Film yang dibintangi sekaligus diproduseri eksekutif oleh Iqbaal Ramadhan bersama Dian Sastrowardoyo ini justru mengangkat sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan nyata: lingkungan kerja toksik, lembur berlebihan, dan eksploitasi buruh.

Film yang tayang mulai 4 Juni 2026 tersebut berkisah tentang Putri dan adiknya yang berusaha mengungkap misteri kematian sang ibu di sebuah pabrik rambut palsu. Sang ibu meninggal setelah berhari-hari menjalani lembur siang dan malam tanpa istirahat yang cukup. 

Di sinilah letak horor sesungguhnya. Bukan sekadar monster atau makhluk misterius, tetapi sistem kerja yang menguras tenaga manusia hingga batasnya.

Apakah Eksploitasi Buruh Masih Terjadi?
Meski dunia kerja telah berkembang pesat, berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa eksploitasi tenaga kerja masih menjadi masalah global.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam berbagai laporannya menyebut jutaan pekerja di seluruh dunia masih menghadapi jam kerja berlebihan, upah yang tidak memadai, hingga kondisi kerja yang membahayakan kesehatan fisik dan mental.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) dan ILO pada 2021 merilis studi yang menemukan bahwa jam kerja yang terlalu panjang berkontribusi terhadap ratusan ribu kematian setiap tahun akibat penyakit jantung dan stroke.

Fenomena burnout juga semakin banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir. Menurut WHO, burnout merupakan sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik.

Karena itu, premis yang diangkat Monster Pabrik Rambut terasa relevan dengan realitas modern. Banyak pekerja saat ini mungkin tidak menghadapi monster di pabrik, tetapi menghadapi tekanan target, lembur berkepanjangan, dan ketidakpastian ekonomi.

Upah Rendah Masih Jadi Keluhan
Selain jam kerja panjang, persoalan upah layak juga masih menjadi perdebatan di banyak negara.

Menurut laporan International Labour Organization, pertumbuhan upah di berbagai wilayah dunia sering kali tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup. Akibatnya, sebagian pekerja harus mengambil jam kerja tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi inilah yang membuat isu kesejahteraan buruh tetap relevan hingga sekarang.

Banyak pakar ketenagakerjaan menilai bahwa kesejahteraan pekerja tidak hanya diukur dari besarnya gaji, tetapi juga mencakup keamanan kerja, jaminan kesehatan, waktu istirahat yang cukup, dan kesempatan hidup yang seimbang.

Bagaimana Islam Memandang Hak Pekerja?
Jauh sebelum isu hak pekerja menjadi perhatian global, Islam telah memberikan panduan yang sangat jelas mengenai hubungan antara pemberi kerja dan pekerja.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya."
(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini sering dikutip para ulama sebagai dasar pentingnya memberikan hak pekerja secara tepat waktu dan tanpa penundaan.

Ustaz Adi Hidayat dalam sejumlah kajiannya menjelaskan bahwa Islam tidak hanya memerintahkan pembayaran upah, tetapi juga menuntut keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam hubungan kerja.

Menurut beliau, pekerja bukan alat produksi semata, melainkan manusia yang memiliki hak, keluarga, dan kebutuhan hidup yang harus dihormati.

Bos yang Baik dalam Pandangan Islam
Buya Yahya juga pernah menjelaskan bahwa seorang pemimpin atau pemilik usaha memiliki tanggung jawab moral terhadap orang-orang yang bekerja di bawahnya.

Jika seorang atasan mampu membantu kesejahteraan pekerjanya, tidak menzalimi mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik, maka hal itu termasuk bentuk amal saleh yang bernilai ibadah.

Pandangan serupa juga sering disampaikan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Menurutnya, kepemimpinan yang baik bukan hanya mengejar keuntungan perusahaan, tetapi juga memastikan keberkahan usaha melalui perlakuan yang adil kepada karyawan.

Dalam Islam, keuntungan bisnis tidak boleh dibangun di atas penderitaan orang lain.

Horor yang Mengajak Kita Bercermin
Monster Pabrik Rambut menarik karena menggunakan medium horor untuk membicarakan persoalan sosial yang nyata. Film ini seolah mengajak kita bertanya: mana yang lebih menakutkan, monster fiksi atau sistem kerja yang mengabaikan kemanusiaan?

Ketika seorang pekerja kehilangan waktu bersama keluarga, kesehatan terganggu karena lembur berlebihan, atau hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan, ketakutan itu terasa jauh lebih dekat daripada cerita hantu di layar lebar.

Mungkin itulah alasan film ini mendapat perhatian di berbagai festival internasional, termasuk Berlinale 2026. Skuad pemain Iqbaal Ramadhan, Rachel Amanda, Lutesha, Sal Priadi, juga maestro tari Didik Nini Thowok juga membuat film ini menjadi 'hidup'. Di balik kisah misteri dan fantasinya, ada pesan yang relevan untuk banyak orang: pekerjaan seharusnya menjadi jalan mencari nafkah yang bermartabat, bukan sumber penderitaan yang menggerus kehidupan.

Dan bagi Islam, pesan itu sudah diajarkan sejak lebih dari 14 abad lalu: pekerja harus dihormati, haknya ditunaikan, dan kesejahteraannya dijaga. Karena di balik setiap pekerjaan, ada manusia yang juga ingin hidup dengan layak.

 

Foto: Instagram/@palarifilms

 

#MonsterPabrikRambut #IqbaalRamadhan #FilmIndonesia #DuniaKerja #Burnout #HakPekerja #KesejahteraanBuruh #IslamDanBisnis #WorkLifeBalance #BuruhIndonesia

Interaksi
Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Form ini masih tampilan native statis untuk v1.

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel terkait

Bacaan lain yang masih sejalur dengan topik ini.

Lihat semua