Kembali ke semua artikel
Saat Dalil Agama Sengaja Dipakai untuk Membungkam Jeritan Rakyat
Khazanah Islam Indonesia 19 June 2026 3 menit baca

Saat Dalil Agama Sengaja Dipakai untuk Membungkam Jeritan Rakyat

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Pernahkah kamu mendengar petuah di media sosial yang meminta kita untuk selalu sabar dan diam saat harga kebutuhan pokok melambung tinggi?

Nasihat itu biasanya berbunyi: "Mau dolar naik ke Rp18.000 atau berapa pun, rezeki kita sudah dijamin oleh Allah Swt. Jadi, jangan protes." Sekilas, kalimat ini terdengar sangat religius dan menyejukkan hati.

Namun, mari kita renungkan pelan-pelan dengan akal sehat kita. Meminta masyarakat untuk pasrah di saat mereka sedang megap-megap bertahan hidup sebenarnya adalah bentuk ketidakpekaan sosial.

Memang benar bahwa sabar dan tawakal adalah ajaran Islam, tetapi menempatkan dalil-dalil tersebut pada momen yang salah justru bisa mengubah kebenaran menjadi tameng untuk menormalisasi kesulitan ekonomi.

1. Belajar dari Teguran Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.
Penyalahgunaan kalimat suci demi membenarkan kondisi yang keliru sebenarnya bukan cerita baru dalam sejarah Islam. Kita bisa berkaca pada peristiwa besar di masa kekhalifahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

Saat itu, kelompok Khawarij menolak perundingan damai dengan membawa-bawa ayat Al-Qur'an: "Inil-hukmu illa lillah" yang artinya hukum itu milik Allah.

Mendengar klaim sepihak tersebut, Sayyidina Ali ra. langsung mengeluarkan sebuah kalimat balasan yang sangat tajam dan mendalam:

"Ini adalah kalimat yang benar, namun yang dimaksudkan dengannya adalah kebatilan."

Kisah klasik ini sangat relevan dengan realitas hari ini. Nasihat untuk tidak mengkritik pemerintah secara ugal-ugalan atau petuah tentang jaminan rezeki adalah kalimat yang benar.

Namun, jika dalil itu sengaja dikeluarkan sebagai "obat penenang" agar rakyat berhenti mengeluhkan kebijakan yang tidak adil, maka fungsinya sudah bergeser dari petunjuk spiritual menjadi alat pembungkam massal.

2. Nasihat yang Benar Harus Disampaikan di Waktu yang Tepat
Agama tidak pernah mengajarkan kita untuk kehilangan empati terhadap sesama manusia. Dalam urusan dakwah, ketepatan momen atau fiqhud da'wah adalah hal yang sangat krusial.

Ulama terkemuka Syekh Abdul Hamid al-Bilali menegaskan bahwa memilih waktu dan situasi yang tepat adalah faktor terbesar agar sebuah nasihat bisa diterima dengan baik dan mampu menghilangkan kemungkaran.

Narasi yang harus digaungkan terlebih dahulu adalah tentang keadilan sosial, amanah kepemimpinan, dan tanggung jawab pembuat kebijakan.

Urutan yang Adil: Tegakkan dahulu keadilan dan bantu rakyat yang kesusahan, baru setelah itu ajaran tentang kesabaran akan menemukan tempatnya yang terhormat.

Jika dibalik—rakyat dituntut sabar sementara ketimpangan sosial di depan mata dibiarkan—maka esensi keadilan dalam Islam justru akan hilang.

3. Tanggung Jawab Moral Para Tokoh Agama Masa Kini
Rasulullah saw. adalah sosok yang paling terdepan dalam membela hak-hak kaum duafa dan orang-orang yang terpinggirkan. Oleh karena itu, para tokoh agama, ustaz, maupun kiai memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk lebih peka terhadap jeritan nyata di akar rumput.

Mimbar agama harus digunakan secara murni untuk menguatkan iman umat, bukan disalahgunakan demi menyenangkan pihak-blank tertentu atau melanggengkan status quo yang timpang.

Ketika masyarakat sedang terhimpit beban ekonomi, mereka butuh solusi nyata dan pembelaan, bukan sekadar pelipur lara rohani.

Mari kita kembalikan fungsi dalil agama sebagai cahaya penerang keadilan yang sejati, bukan sebagai selimut untuk menutupi kenyataan yang sedang tidak baik-baik saja.

 

Foto: Pexels

 

#KeadilanSosial #BijakBeragama #EmpatiMasyarakat #DakwahBijak #KritikSehat #SuaraRakyat #IslamRamah #TanggungJawabPemimpin #SelfReminder #PekaSosial

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua