Kembali ke semua artikel
Bukan Pelit, Ternyata Begini Konsep Frugal Living dalam Islam
Gaya Hidup Halal 13 June 2026 4 menit baca

Bukan Pelit, Ternyata Begini Konsep Frugal Living dalam Islam

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Di era modern yang serbainstan ini, kita sering kali digempur oleh tren konsumerisme yang tiada habisnya. Mulai dari godaan belanja online di tengah malam hingga gengsi untuk selalu tampil dengan barang-barang bermerek.

Di tengah situasi ini, konsep frugal living atau gaya hidup hemat dan bersahaja mencuat sebagai solusi populer untuk menjaga kewarasan finansial. Namun tahu tidak, jauh sebelum istilah ini beken di media sosial, Islam sudah meletakkan prinsip hidup hemat ini sebagai bagian dari fondasi keimanan kita.

Luna Z. Rainstorm dalam bukunya Frugal Living Mastery mendefinisikan frugal living sebagai seni mengelola keuangan secara bijak dan efisien tanpa mengorbankan kebutuhan dasar atau kebahagiaan. Prinsip utama gaya hidup ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dari banyaknya uang yang kita hamburkan, melainkan dari cara kita mensyukuri apa yang dimiliki. Dalam sudut pandang Islam, cara pandang ini sangat selaras dengan konsep qana'ah (merasa cukup) dan larangan bersikap boros.

Tamparan Keras Al-Qur'an untuk Kaum yang Suka Boros
Islam memandang pengelolaan harta bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari bentuk pertanggungjawaban kita kepada Allah Swt. Larangan untuk hidup berlebihan secara tegas tertuang dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra' Ayat 27. Allah Swt. berfirman bahwa sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah makhluk yang sangat ingkar kepada Tuhannya. Istilah "saudara setan" ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat spiritual bagi kita agar tidak main-main dalam membelanjakan rezeki yang sudah dititipkan.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labib memperdalam makna ayat tersebut. Beliau menjelaskan bahwa pemborosan terjadi ketika kamu menggunakan harta untuk tujuan yang salah, seperti maksiat, pamer kesombongan, atau sekadar berburu popularitas dan pujian orang lain. Ketika seseorang diberi nikmat berupa harta namun menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah Swt., maka ia telah menunjukkan sikap kufur nikmat. Perilaku melampaui batas inilah yang membuat seorang pemboros memiliki kemiripan sifat dengan setan yang gemar melakukan kerusakan di muka bumi.

Menemukan Titik Keseimbangan Finansial Menurut Para Ulama
Selain Syekh Nawawi, Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib juga menegaskan bahwa Islam melarang keras segala bentuk penghamburan harta secara berlebihan dan sia-sia. Dalam budaya Arab, seseorang yang terus-menerus melekat pada suatu kebiasaan akan dijuluki sebagai "saudara" dari tindakan tersebut. Maka, label saudara setan melekat pada mereka yang konsisten meniru sifat borosnya setan. Di sisi lain, Ibnu Katsir mengaitkan pentingnya hidup hemat ini dengan Surah Al-Furqan Ayat 67, yang memuji hamba-hamba Allah yang apabila berinfak atau membelanjakan harta, mereka berada di tengah-tengah—tidak berlebihan dan tidak pula kikir.

Ulama besar seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud memberikan batasan yang sangat jernih tentang esensi pemborosan ini. Menurut mereka, jika kamu menghabiskan seluruh hartamu untuk jalur kebaikan dan kebenaran, hal itu sama sekali tidak dihitung sebagai pemborosan. Sebaliknya, jika kamu mengeluarkan uang sekecil apa pun—bahkan sekadar satu mud—untuk perkara maksiat atau hal yang melanggar hak, maka tindakan tersebut sudah sah dikategorikan sebagai pemborosan. Jadi, kunci utamanya terletak pada nilai manfaat dan keberkahan dari setiap rupiah yang kita keluarkan.

Mempraktikkan Frugal Living yang Berkah dan Berpahala
Dari tuntunan ayat dan tafsir para ulama di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa frugal living dalam Islam bukanlah sekadar tips pelit atau hidup dalam serba-kekurangan. Gaya hidup ini adalah bentuk kemampuan kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan menyaring mana yang benar-benar kebutuhan utama (needs) dan mana yang hanya sekadar keinginan sesaat (wants). Dengan hidup seimbang, kita tidak hanya berhasil menyelamatkan dompet dari sifat konsumtif, tetapi juga menyelamatkan kesehatan jiwa kita dari penyakit keserakahan.

Yuk, mulai sekarang kita praktikkan gaya hidup hemat ini sebagai bagian dari ibadah dan rasa syukur kita atas nikmat-Nya. Kamu bisa memulainya dengan menyusun anggaran harian yang rapi, menghindari belanja impulsif, serta memperbanyak berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Ingat, mengelola harta dengan bijak dan menjauhi gaya hidup mewah yang semu akan membuat hidup kita jauh lebih tenang, berkah, dan terhindar dari jebakan lingkaran setan. Tetap semangat mengatur keuangan dengan bijak, ya!

 

Foto: Magnific

 

#FrugalLiving #HidupHemat #TafsirAlQuran #GayaHidupMuslim #BijakFinansial #SelfReminder #ManajemenKeuangan #IslamItuIndah #MeraihBerkah #MuslimCerdas

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua